Tazkiyatun Nafs
Trending

Kemerdekaan Sejati Bagi Seorang Muslim

Kemerdekan merupakan salah satu hal yang kita rasakan saat ini di negeri kita Indonesia. Di mana setelah sekian lama dijajah oleh negeri-negeri non Islam, Presiden Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Itulah di antara bentuk kemerdekaan di dunia yang merupakan tempatsinggah yang fana . Lalu bagaimana kemerdekaan abadi? Bagaimana cara mendapatkannya? Semoga risalah singkat ini bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan menjadi pijakan bagi siapa yang hendak meraih kemerdekaan hakiki, meskipun risalah ini bukan yang terbaik. Selamat membaca dan mengambil faidah dari risalah ini, semoga Allah memberikan keberkahan dan keikhlasan kepada kami serta manfaat kepada para pembaca.

Makna Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah kondisi seseorang berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah lagi.(KBBI Online). Jadi merdeka itu adalah keadaan di mana seseorang merasakan keamanan dan kebahagiaan serta terhindar dari tekanan atau rasa takut. Ketika kita hanya mendapatkan nikmat tapi masih ada rasa takut dan kita masih mendapatkan penderitaan maka itu bukanlah suatu kemerdekaan. Begitu juga sebaliknya, ketika kita tidak mendapatkan penderitaan namun juga tidak mendapatkan kebahagian, maka itu juga bukanlah kemerdekaan.

Bersyukur Kepada Allah Atas Nikmat Kemerdekaan

Kemerdekaan negeri adalah di antara nikmat besar yang Allah berikan, bukan murni jerih payah pahlawan. Maka jangan sampai kita hanya berterimakasih kepada mereka tapi hendaknya kita juga bersyukur kepada Allah. Karena tidak mungkin kita meraih  kemerdekaan melainkan atas izin Allah subhanahu wata’aalaa. Maka hal ini semakin memperjelas bahwa kemerdekaan adalah di antara nikmat yang berasal dari Allah. Allah berfirman:

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةࣲ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَیۡهِ تَجۡـَٔرُونَ

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan”. (QS. An-Nahl: 53).

Karena kemerdekaan adalah nikmat dari Allah maka sebagaimana nikmat yang lain untuk menjaga kelanggengannya adalah dengan mensyukurinya. Allah berfirman:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَىِٕن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِیدَنَّكُمۡۖ وَلَىِٕن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِی لَشَدِیدࣱ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim:7).

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Sungguh Allah memberikan kenyamanan dengan nikmat sesuai kehendakNya, jika tidak disyukuri maka Allah rubah nikmat itu menjadi siksa. Maka dari itu para ulama menamai syukur dengan hafidz (penjaga) dan Jalib (penarik), dinamakan hafidz, karena ia menjaga nikmat yang ada dan dinamakan jalib karena ia menarik nikmat yang belum didapat”. Umar bin Abdul Aziz berkata: “ikatlah nikmat Allah azza wajalla dengan bersyukur kepada Allah azza wajalla” (Kitab Hal Syakarta ‘Ala Ni’amillah, 13)

Kemerdekaan yang Sejati

Dunia ini adalah tempat singgah semata, tidak selamanya kita hidup di dunia ini. Semua manusia pasti akan mati. Abdullah ibn Mas’ud meriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang musafir yang singgah berteduh di bawah pohon kemudian pergi meninggalkannya” (HR. Tirmidzi, 2377 dan Ibnu Majah, 4109. Dinilai shahih oleh syeikh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzi).
Setelah mati maka nikmat dunia tidak dirasakan lagi, demikian pula kemerdekaan. Allah berfirman:

كُلُّ نَفۡسࣲ ذَاۤىِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَیَوٰةُ ٱلدُّنۡیَاۤ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلۡغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Ali Imran: 185)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa kemerdekaan dan kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika seseorang masuk surga dan jauh dari neraka. Yang demikian itu karena surga adanya hanya nikmat dan tidak ada kesedihan atau musibah apapun. Sedangkan neraka isinya hanyalah siksaan dan tidak ada ketentraman. Hal ini semakna dengan makna kemerdekaan, yakni bebas dan tidak ada lagi penjajahan, tidak ada lagi kesedihan dan penderitaan.

Ahlu sunnah waljama’ah meyakini bahwa penduduk surga kekal di surga selamanya, tidak ada kefanaan dan kematian. (Syarah Laamiyah Ibnu Taimiyah Li Umar Al-’Ied, 8/17). Inilah kemenangan dan kemerdekaan yang sejati karena selalu mendapatkan nikmat yang luar biasa tanpa henti serta tidak akan berpindah dari sana selamnya. Allah berfirman:

لَا یَذُوقُونَ فِیهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰۖ وَوَقَىٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِیمِ

“Mereka (penduduk surga) tidak akan merasakan mati di dalamnya, selain kematian pertama (di dunia). Allah melindungi mereka dari azab neraka” (QS.Ad-Dukhan: 56).

Allah juga berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّـٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا .خَـٰلِدِینَ فِیهَا لَا یَبۡغُونَ عَنۡهَا حِوَلࣰا

“Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal,mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin pindah dari sana”.(QS. Al-Kahfi: 107-108)

Cara Meraih Kemerdekaan Abadi

 

1. Menghindarkan Diri dari Penyebab Utama Masuk Neraka

Untuk meraih kemerdekaan yang hakiki nan abadi langkah pertama adalah bagaimana kita selamat dari penderitaan yang abadi, yakni neraka. Karena kebahagiaan tidak akan ada artinya, jika kita masuk ke neraka apalagi kekal di sana na’udzubillah. Maka untuk merealisasikan hal tersebut hendaknya kita menjauhi segala macam perbuatan yang mengakibatkan kita masuk neraka, terutama yang menyebabkan kekal di neraka, kekufuran dan kesyirikan. Allah berfirman:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُوا۟ وَلَن تَفۡعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِی وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِینَ

“Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 24).
Allah juga berfirman:

لَقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ مَرۡیَمَۖ وَقَالَ ٱلۡمَسِیحُ یَـٰبَنِیۤ إِسۡرَ ٰ⁠ۤءِیلَ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ رَبِّی وَرَبَّكُمۡۖ إِنَّهُۥ مَن یُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِینَ مِنۡ أَنصَارࣲ

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu”. (QS. Al-Maidah: 72).

Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril datang kepadaku dan memberikan kabar gembira bahwa barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyukutukan Allah dengan suatu apapun, maka ia masuk surga” (HR. Bukhari, 7487).

2. Taqwa

Dari penjelasan kita bisa mengerti bahwa untuk bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga adalah dengan beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi kesyirikan. Setelah itu langkah berikutnya adalah dengan cara berusaha melakukan amalan-amalan yang menghantarkan ke surga dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang menyebabkan murka Allah. Inilah makna taqwa. Sebagaimana penjelasan para ulama, yang di antaranya Syeikh Bin Baz bahwa taqwa adalah beribadah kepada Allah dengan mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya, dengan rasa harap kepada nikmatNya dan takut kepada siksaNya serta didasari dengan cinta dan pengagungan kepadaNya (Kitab At-Taqwa li Umar Sulaiman al-Asyqor, 9). Dengan taqwa seorang muslim bisa meraih kemerdekaan yang sejati yakni kenikmatan masuk surga. Allah berfirman:

۞ وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِینَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133)
Allah juga berfirman:

إِنَّ لِلۡمُتَّقِینَ مَفَازًا

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan” (QS. An-Naziat: 31).

3. Akhlaq Mulia

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang amalan yang merupakan sebab terbesar masuk surganya seseorang, beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Bertaqwa kepada allah dan Akhlaq baik” (HR. Tirmidzi, 2004. Dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzi).
Sebagaimana dalam hadits tersebut di atas, maka langkah berikutnya untuk meraih surga adalah dengan berakhlak baik. Hal tersebut dikarenakan manusia hidup di dunia ini berdampingan dengan manusia lain, maka sudah sepantasnya untuk berakhlak baik agar bisa bermuamalah dengan baik. Rasulullah bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Daud, dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albany dalam Shahih Abi Daud, 4682 )

Dan di antara bentuk akhlak mulia adalah menebarkan salam dan sifat dermawan. Rasulullah bersabda: “wahai manusia sebarkanlah salam, berilah makan (orang miskin) dan sholatlah saat manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Syeikh Al-Albany dalam Shahih Ibnu majah,1105 ).

Kesimpulan

Kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan dan kesengsaraan. Kemerdekaan yang sejati nan abadi adalah masuk surga, karena di sana kekal dan mendapatkan berbagai kenikmatan. Untuk meraih kemerdekaan tersebut kita bisa menempuh beberapa langkah, di antaranya: mentauhidkan Allah dan menjauhi kesyirikan, bertaqwa kepada Allah serta berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button