Aqidah

Mengapa Menyembah Hanya Kepada Allah Saja?

Oleh: Abu Shofia Al-I'tishamy

Mengapa Menyembah Hanya Kepada Allah Saja?

Agama-agama selain Islam, kebanyakan mengajarkan kepada ummatnya bahwa Tuhan itu tidak hanya satu. Ada yang berkeyakinan Tuhan ada dua, Tuhan kegelapan dan Tuhan cahaya. Ada juga yang memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu ada banyak, seperti: Tuhan langit, bumi, laut, dan lain sebagainya. Adapun Islam, mengajarkan kepada ummatnya bahwa sesembahan itu hanya satu, yaitu Allah subhanahu wata’aalaa. Setiap muslim hendaknya beribadah hanya kepadaNya.

Akan tetapi ada juga dari kaum muslimin yang mengaku Islam namun masih beribadah kepada selain Allah. Meskipun mereka tidak meyakini bahwa Tuhan ada banyak, mereka menujukan ibadah tidak hanya kepada Allah. Selain sholat dan ibadah lainnya yang mereka tujukan kepada Allah, mereka juga beribadah kepada selainNya. Mungkin di antara mereka ada yang bertanya kenapa menyembah hanya kepada Allah?, haramkah kita menujukan ibadah kepada selain Allah?. Dalam risalah ini akan kami jelaskan, kenapa seorang muslim menyembah hanya kepada Allah dan apa akibat dari penyembahan kepada selain Allah. Semoga risalah ini mendatangkan manfaat dan meningkatkan iman kita kepada Allah sehingga kita semakin dekat kepadaNya.

 

Allah Satu-satunya Pemberi Rezeki

Setiap orang pasti meyakini dalam hati nuraninya bahwa satu-satunya pencipta alam semesta, yang mematikan, yang menghidupkan, pengatur alam semesta serta pemberi rezeki adalah Allah. Bahkan orang-orang musyrik pun mengakui dan meyakini akan hal itu. Al-Qur’an telah mengisahkan bahwa sejak diutusnya rasul pertama kali hingga rasul terakhir, semua orang-orang musyrik di sepanjang zaman tersebut meyakini bahwa Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, pengatur alam semesta, yang menghidupkan dan mematikan. (lihat syarah fathul majid, karya syeikh Muhammad Al-Ghoniman, 10/46). Allah berfirman: Dan sungguh, jika engkau tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Kalau begitu, terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan bencana kepadaku, apakah meraka mampu menghilangkan bencana itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat mencegah rahmat-Nya?” Katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya lah orang-orang bertawakal berserah diri.” ( QS. Az-Zumar: 38). Allah juga berfirman: Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah; jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)? ( QS. Az-Zukhruf: 87).

Seharusnya keyakinan mereka bahwa Allah satu-satunya pencipta, pemberi rezeki dan pengatur alam semesta, menjadikan mereka beribadah hanya kepada Allah. Allah berfirman: Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. ( QS. Al-Baqarah: 21-22). Di dalam ayat tersebut seakan Allah berkata: selama kalian meyakini bahwa Allah yang menciptakan kalian, menciptakan langit dan bumi serta memberi rezeki, keyakinan kalian itu mengharuskan kalian untuk mengesakan Allah dalam penyembahan. Allah berfirman: Bukankah Dia (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). (QS. An-Naml: 60) Pertanyaan tersebut menegaskan bahwa kemahapenciptaan Allah menunjukan tidak adanya sesembahan selain Allah. (Masaail kholafa fiihaa Rasulullah Ahlal Jahiliyah, 8/1). 

 

Tujuan Diciptakannya Jin dan Manusia

Allah tidak menciptakan manusia dan jin tanpa ada tujuan. Allah tidak menciptakan manusia dan jin untuk hal yang sia-sia belaka. Namun sebaliknya, Allah menciptakan jin dan manusia dengan tujuan dan hikmah yang jelas. Allah berfirman: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. (QS. Ath-Thur: 56-57) Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan jin dan manusia dengan tujuan agar mereka beribadah hanya kepadaNya. Ayat tersebut menjelaskan hikmah dari diciptakanya jin dan manusia, yakni Allah tidak menginginkan dari mereka sebagaimana apa yang diinginkan oleh seorang tuan dari budaknya yang mana mereka berkhidmat memberikan bantuan kepa tuannya dalam hal makan dan rezeki. Akan tetapi Allah menginginkan maslahat bagi mereka. (Al-Mulakhos fii Syarhi Kitabit Tauhid, 9). Jadi Allah sama sekali tidak membutuhkan hambaNya sebagaimana seorang tuan membutuhkan bantuan dan pelayanan dari budaknya.

Maka jelaslah bagi kita bahwa manfaat dari ibadah yang kita tujukan hanya kepada Allah adalah untuk maslahat diri kita, bukan untuk Allah karena Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Dan dengan beribadah hanya kepadaNya kita telah merealisasikan tujuan dari diciptakannya kita yang dengannya kita akan mendapatkan maslahat besar, yakni masuk surga sebagaimana akan dijelaskan di poin berikutnya pada risalah ini. Sebaliknya jika kita beribadah kepada selain Allah, berarti kita telah menyalahi kodrat kita sebagai hambaNya yang dengannya kita akan merugi karena masuk neraka. 

 

Tauhid Kunci Surga

Kehidupan hakikii yang penuh kenikmatan di surga akan bisa diraih dengan beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun. Inilah yang disebut dengan tauhid yang maknanya secara bahasa adalah menjadikan sesuatu satu, secara istilah syar’iy mengesakan Allah dalam ibadah. Jika ada orang yang bertanya mengapa kita harus mengesakan Allah dalam ibadah, maka inilah jawabannya, yakni karena dengan beribadah hanya kepada Allah kita akan mendapatkan kenikmatan yang hakiki dan abadi. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah (wafat) dan tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun maka ia masuk surga. Dan barangsiapa bertemu dengan Allah dalam keadaan menyekutukanNya dengan selainNya, maka dia masuk neraka. (HR. Muslim, 93). Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Masuknya orang yang tidak menyekutukan Allah ke dalam surga adalah suatu kepastian. Akan tetapi terdapat perbedaan antara satu orang dengan lainnya, yakni jika tidak melakukan dosa besar sampai akhir hayatnya, maka ia masuk surga langsung. Adapun yang melakukan dosa besar di masa hidupnya dan tidak bertaubat hingga wafatnya maka di bawah kehendak Allah, jika Allah menghendaki ia bisa diampuni dan dimasukkan langsung ke surga, jika Allah tidak mengampuninya maka ia disksa di neraka kemudian Allah keluarkan ia dari neraka dan memasukkannya ke surga.” (Syarah Fathul Majid lil ghoniman, 11/20)

Sebaliknya, orang yang menyekutukan Allah ia akan masuk neraka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Jabir bin Abdillah di atas. Namun jika orang yang menyekutukan Allah bertaubat sebelum wafatnya, kemudian ia tidak berbuat syirik lagi, maka Allah akan menerima taubatnya dan memasukkannya ke surga.

 

Dakwahnya Para Nabi dan Rasul

Inti dari ajaran Islam adalah kalimat tauhid laa ilaaha illallaah dan untuk itulah Allah mengutus seluruh Rasul (Risalah Tadmuriyah, 174). Jika diutusnya para Nabi dan Rasul adalah untuk mengajak  beribadah hanya kepada Allah, maka jawaban untuk pertanyaan “Kenapa kita beribadah hanya kepada Allah?”, adalah karena kita ingin mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam yang mana beliau diutus untuk mendakwahkan tauhid, yakni beribadah hanya kepada Allah. Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt,” kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul)”. (QS. An-Nahl: 36). Allah juga berfirman: “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al-Anbiya’: 21)

 

Kesimpulan

Tuhan yang Haq hanya satu yaitu Allah subhanahu wata’aalaa. Ialah satu-satunya pencipta, pengatur alam semesta dan pemberi rezeki. Wajib bagi kita untuk beribadah hanya kepadaNya, karena itulah tujuan kita diciptakan. Dengan beribadah hanya kepadaNya, kita akan masuk surga dan itulah jalan kebenaran jalannya para Nabi dan Rasul Allah ‘alaihimussalam. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button