
Mengikuti Ajaran Nabi bukan Radikalisme
Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira bagi seluruh umat. Beliau adalah Nabi terakhir. Tidak ada satupun kebaikan dalam hal agama melainkan telah beliau jelaskan agar kita melakukannya dan tidak ada satupun keburukan melainkan beliau telah melarang kita dari melakukannya. Maka dari itu Allah subhanahu wata’aalaa menjelaskan bahwa bukti cinta kepadaNya adalah dengan mengikuti beliau. Allah berfirman: “katakanlah (wahai Muhammad) jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni bagi kalian dosa-dosa kalian” (QS. Ali Imran: 31). Ketaatan kepada Allah akan terbukti jika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dita’ati. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Barangsiapa yang mentaati aku maka ia telah mentaati Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka ia telah durhaka kepada Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi sangat disayangkan beberapa orang dari yang mengaku mengikuti agama beliau shalallahu ‘alaihi wasallam ada yang menyelisihi petunjuk beliau dan menganggap radikal orang yang mengikuti beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka dari itu di makalah yang sederhana ini ingin kami jelaskan pentingnya mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan kami sampaikan tentang beberapa nasehat tentang hal itu. Semoga risalah singkat ini Allah jadikan bermanfaat untuk kaum muslimin.
Kewajiban Mengikuti Rasulullah
Persaksian bahwa Muhammad utusan Allah tentunya tidak sekedar ucapan, melainkan ada konsekuensinya. Para ulama menjelaskan bahwa konsekuensi dari syahadat Anna Muhammad Rasulullah ada empat: 1. Membenarkan apa yang beliau shalallahu ‘alaihi wasallam kabarkan, 2. Mentaati apa yang beliau perintahkan, 3. Menjauhi apa yang beliau larang dan 4. Dan tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang beliau syariatkan. ( Syarah Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, hal:75)
Jika empat hal tersebut tidak terpenuhi pada seorang muslim maka diragukan syahadatnya. Inilah pentingnya kita mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman: Katakanlah (Muhammad), “Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul, dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan terhadapmu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS. Al-Ahqaf: 9). Jika apa yang diikuti beliau shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Wahyu dari Allah, maka tidaklah pantas bagi seorang muslim mengikuti jalan lain dalam beragama dan beribadah kepada Allah subhanahu wata’aalaa.
Selain itu ibadah juga tidak akan diterima melainkan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Beliau bersabda: “barang siapa yang mengerjakan sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalannya tertolak” (HR. Bukhari, 2797 dan Muslim, 1835). Tidak ada jalan kebenaran dan keselamatan melainkan dengan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: ” Setiap ummatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan”. Maka para sahabat bertanya: ya Rasulullah siapakah orang yang enggan itu?, Beliau menjawab: “Siapa yang mentatati aku, maka dia masuk surga dan siapa yang durhaka kepadaku maka dia telah enggan”. ( HR. Bukhari, 6851). Anas bin Malik berkata: “Sunnah Rasulullah ibarat perahunya Nabi Nuh, barang siapa menitinya ia akan selamat dan siapa yang menyelisihinya dia akan tenggelam” ( Miftahul Jannah fil ihtijaaj bis Sunnah, 76)
Dari pemaparan di atas jelaslah bagi kita akan wajibnya mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam beragama. Dan jelas pula kekeliruan orang-orang yang menganggap radikal orang yang mengikuti beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.
Ancaman Bagi yang Menyelisihi Nabi
Wajibnya mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa siapa yang tidak mengikuti Rasulullah shalallahu ‘alaihi maka ia akan celaka. Allah berfirman: ” … maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. Al-furqan: 63). Ayat ini menjelaskan bahwa siapa saja yang lebih memilih petunjuk lain yang menyelisihi petunjuk Rasulullah maka ia akan ditimpa adzab.
Hudzaifah Ibnu Yaman bertanya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam: “Dahulu kami berada dalam kejahiliyahan dan keburukan kemudian Allah subhahu wata’aalaa mendatangkan kebaikan ini (petunjuk Rasulullah), lalu apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi?. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menjawab: “ya, setelah itu akan ada dakhnah (kerusakan yang terselubung). Aku (hudzaifah) berkata: “apa dakhnah itu?”. Beliau bersabda: “kaum yang memberikan petunjuk yang bukan petunjukku, pada mereka ada perkara yang engkau ketahui dan ada juga yang tidak engkau ketahui”. Aku (hudzaifah) berkata: “lalu apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi?”. Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menjawab:” ya, akan ada para da’i yang menyeru kepada neraka jahanam, barangsiapa yang menerima dakwahnya maka mereka akan melemparkannya ke neraka”. (HR. Ibnu Majah, 43).
Begitu berat ancaman bagi orang yang menyelisihi petunjuk Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Sungguh aneh jika ada orang yang merasa tidak enak menyelisihi orang lain akan tetapi ia merasa biasa saja ketika menyelisihi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.
Rasulullah Rahmat untuk Semesta Alam
Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam sebagai utusan untuk seluruh umat memiliki sifat yang sangat terpuji. Beliau diutus sebagai rahmatan Lil ‘aalamiin. Allah berfirman: ” Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiya’: 107). Ini sangat berbeda dengan istilah radikal atau radikalisme yang merupakan paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial/politik dengan menggunakan kekerasan (KBBI Online). Suatu saat Nabi shalallahu’alaihi wasallam diminta oleh sebagian orang sahabatnya agar mendoakan keburukan untuk kaum musyrikin, tapi beliau shalallahu’alaihi wasallam tidak mau. Beliau bersabda: “aku tidaklah diutus sebagai pelaknat, aku diutus sebagai penebar kasih sayang (HR Muslim, 2599)
Adapun peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam kepada orang-orang kafir itu adalah dalam rangka menegakkan kalimat tauhid yakni agar ummat manusia beribadah hanya kepada Allah yang ini merupakan tujuan diciptakannya manusia dan jin. Allah berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat: 56). Selain itu di setiap kali sebelum memerangi satu negeri kafir, Rasulullah menawarkan terlebih dahulu ajaran Islam yang rahmatan Lil ‘aalamiin. Tidak serampangan dalam berjihad menebarkan Islam. Hal tersebut bisa kita lihat di berbagai kitab-kitab sejarah yang membahas perjalanan hidup beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.
Maka jelaslah bagi kita bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam adalah ajaran yang menyeru kepada perdamaian dan kasih sayang bukan ajaran yang mengusung kekerasan dan berpaham radikal. Adapun tindakan-tindakan radikal yang mengatasnamakan tauhid dan Sunnah Nabi, itu hanyalah ulah oknum dari beberapa kelompok sesat. Islam berlepas diri dari semua itu.
Nasihat Bagi Orang Yang Salah Faham
Ketidaktahuan sering kali membuat orang salah dalam menilai orang lain. Demikian pula ketidaktahuan dalam hal agama tidak jarang menyebabkan tuduhan-tuduhan yang tidak ada dasarnya. Di negeri ini beberapa sunnah/ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sering dianggap menyalahi kearifan lokal bahkan dianggap radikal, padahal tidak ada kekerasan sama sekali. Lelaki yang memelihara jenggot dan mengenakan celana cingkrang (di atas mata kaki), muslimah yang bercadar dan yang semisalnya tidak jarang menjadi sasaran kebencian. Padahal itu semua dilakukan tidak lain adalah usaha dalam meneladani Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam. Ada juga beberapa hal yang merupakan ikhtilaf yang sudah lama tapi diungkit-ungkit dan digunakan untuk me-radikal-kan orang, seperti: persoalan qunut shubuh, jumlah raka’at shalat tarawih, merapatkan dan meluruskan shaf.
Sebagai seorang muslim hendaknya kita tidak bersikap seperti itu, mudah melabeli muslim lain dengan laqob-laqob buruk hanya karena merasa aneh dengan penampilan atau perbuatannya. Seorang mukmin hendaknya mendasari perbuatan dan sikapnya dengan ilmu. Maka ketika mendapati muslim lain berbeda dengannya, ia mempelajari terlebih dahulu apakah amalan, penampilan atau apapun yang ada pada orang tersebut sesuai dengan syari’at Islam ataukah tidak. Jika menyelisihi syari’at, maka tidak ada kewajiban melainkan mengingatkan tanpa harus mengolok-oloknya. Namun jika ternyata apa yang dilakukan seorang muslim tersebut sesuai dengan syari’at Nabi shalallahu’alaihi wasallam, maka harus diterima dan tidak boleh disalah-salahkan atau bahkan diolok-olok. Karena mengolok-oloknya sama dengan mengolok-olok ajaran Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.
Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang menyerupai orang-orang munafik dan kafir yang mereka suka mengolok-olok ajaran Nabi shalallahu’alaihi wasallam. Allah berfirman: Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka), “Teruskanlah berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya).” Sesungguhnya Allah akan mengungkapkan apa yang kamu takuti itu. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Mengapa kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.(QS. At-taubah: 64-66). Allah juga berfirman: Dan sesungguhnya beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokan, maka Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Maka alangkah hebatnya siksaan-Ku itu! (QS. Ar-Ra’d: 32).
Baarakallahu fiikum ya mudir kabir,, tulisannya Maasya Allah juos
حياكم الله يا مدير المديرين